DIARY
Aku teringat pada
bapak mikrobiologi kita, yang sangat gigih menciptakan alat bernama mikroskop.
Beliau menulis tulisannya diawali pada tanggal 10 juni 1675. Jika Antony van
Leeuwenhoek saja bisa menulis buku hariannya yang berjudul "Mengumpulkan air
hujan dalam cawan" kenapa aku tak bisa.
Catatanku bermula
sejak aku kecil. Entah mengapa aku selalu lega saat
menuangkan isi hatiku pada sebuah kertas. Aku berbagi bahagiaku pada
kertas-kertas itu dan menuliskan kisahku dengan tersenyum-senyum. Tulisannya
rapih. Tak jarang kugambarkan juga sedikit sketsa. Walaupun saat kulihat
kembali sketsa-sketsa tersebut kuakui sungguh amat sangat konyol. Tapi aku
bersyukur karena telah membuat sejarah pribadi bahagiaku pada secarik kertas.
Pun sebaliknya saat
aku sedih, aku marah, aku menyesal, aku pasti melampiaskannya dengan
kertas-kertas itu. Tulisanku besar-besar. Acak-acakan. Serta terkadang susah
dibaca karena emosiku yang entah akan kusalurkan kesiapa. Bersyukur kembali aku
melihatnya, karena untuk anak kecil seusiaku dulu, ternyata emosiku dapat
terkontrol dengan menulis semuanya dengan detail.
Hari ini aku
memikirkan kembali saat-saat indah itu. Rinduku tersebar, berterbangan melalui
angin serta kupu-kupu hitam itu pun membantu mengirimkan rinduku sampai jauh
dari jarak sumbernya bagaikan bunga yang menebarkan serbuk sari nya jauh tersebar
dari tempatnya ia berasal. Berat memang menjadi pecundang seperti aku. Memiliki
rindu yang entah orang itu mengetahuinya atau tidak. Tahu atau tidak sebenarnya
bagiku tak masalah, karena rinduku telah tersimpan dengan aman jauh didasar
lubuk hatiku. Bagai serbuk sari yang tumbuh dengan tahapannya yang indah dan
menakjubkan, tersimpan dalam tempat yang kokoh dan menjadi embrio yang
berkembang menjadi biji. Sama halnya dengan nasib rinduku, yang kini telah
berkembang, entah menjadi apa, aku pun tak mengerti, jenis perasaan apa yang ku
miliki pun aku tak cukup paham.
Saat rasa ini mulai
tumbuh, bak biji yang berkembang menjadi buah. Apakah kau sanggup menahannya?
Tidak bukan. Aku yakin kau pun tak kuasa untuk menahannya agar tak lagi tumbuh.
Bahkan saat rasa itu berjatuhan, tersebar pada hari kita membersmai waktu dalam
setiap kegitan, aku yakin kau pasti membiarkan rasa itu berkecambah dan tumbuh
menjadi benih-benih kasih. Ku harap kau tak pernah tahu apa yng aku rasakan
saat ini.
Analogi ini sama
halnya seperti aku yang memendam rasa pada dia seorang yang begitu bisa
membuatku berubah. Bermetamorfosis menjadi sesosok jiwa yang baru dengan proses
yang sulit juga untuk kumengerti sendiri. Aku khawatir jika rasa ini tumbuh
berkembang sempurna, tanpa cacat. Hingga aku benar-benar tak kuasa untuk menahannya.
Rasaku amat rapih
kusimpan, bahkan dalam seluk beluk hatiku, berharap semut pun tak mengetahuinya.
Karena aku khawatir kamu akan tau lebih awal. Atau siapapun mengetahui hal ini.
Ingin rasanya aku mencarikan obat penghilang rasa ini. Karena sungguh aku tak
bisa menahannya lagi, sungguh berat kurasa hingga aku seringkali lelah
menulisnya di buku diariku. Terkadang aku merasa telah salah menjatuhi rinduku.
Telah lupa menyimpan kagumku pada orang yang tak mungkin mengerti. Aku akhiri
diariku dengan memohon padaMu agar kau bisa mengobati sedikit rinduku dengan
melenyapkan kasihku dalam diam. Kagumku dalam bisu. Serta anganku dalam pejaman.
Sepanjang hari bumiku
basah. Sebasah hatiku yang tak sabar bertemu denganmu siang ini. Walau sebatas
kilasan, bagiku itu sangat berarti. Kau manis. Senyummu selalu membuatku
tersipu. Walau aku tau senyum itu bukanlah untuku saja. Tapi hari ini sungguh
kau memberiku sejarah terindah. Karena akhirnya kau tersenyum padaku. Yaa
padaku saja. Ah kamu, kamu membuatku lupa. Karena ingatanku tiba-tiba
berterbangan bak serbuk sari yang tertiup angin. Matamu menyipit saat senyum
tulusmu menyapa siapa saja yang bertemu denganmu. Membuat siapapun yang
melihatmu senantiasa bahagia.
Aku berusaha untuk tidak menjadikanmu sebagai sesuatu yang
mengubah arah hidupku. Walau aku tau kau mampu. Tapi aku tak ingin ini
berlebihan. Bukankah berlebihan? Ah tidak menurutku.
Ntah mengapa, merindukanmu adalah hal menyenangkan bagiku.
Karena lewat rinduku padamu, aku merasa bisa lebih dekat denganmu. Kau seperti
substrat, dan aku enzim nya. Melebur bersama dan mengoptimalkan sistem tubuh.
Aku tak akan bisa sejalan jika tak ada kau disampingku. Tapi itu hanyalah
angan, karena ku akui aku pecundang.
Hari ini hari bahagiaku. Tepat bulan November aku sah menyandang
gelar sarjana teknik mesin. Bahagiaku tidak hanya sebatas kemenanganku saat
ini, tapi pada momen bahagia ini pun aku menunggu-nunggu dia yang akan tampil
jauh berbeda seperti hari biasanya. Hanya saja, bagai trauma yang datang tak pernah mengenal waktu dan tempat, aku
terpaksa harus menelan pil pahit kehidupan. Berlebihan memang, tapi jujur saja
itulah yang aku rasakan dikala aku melihat kau dirangkul dan berfoto dengannya.
Aku berharap itu bukanlah hal yang khusus, yang dilakukan seperti hal nya
sepasang kekasih. Tapi mengapa aku tak lagi bisa tersenyum, lidah ku kelu, saat
kau memberiku sebuah undangan, dengan terdapat dua orang nama di covernya.
Sungguh tak terduga, karena bagiku terlalu banyak makna yang terkandung dalam
sebuah undangan itu. Rasanya seperti ada yang mengacak-acak puzzle-ku yang telah kususun dengan hati-hati
dan teliti untuk kusempurnakan selama ini. Apakah ini salahmu?. Tidak. Ini
mutlak salahku.
Bulan Januari yaah
bulan Januari, bukan bulan Febuari bukan pula bulan ini. Sendu ini mewakili
rinduku. Hanyut bersama rintik hujan yang kurasa begitu sangat berbeda. Namun
seiring dengan kehayutan itu aku tau bahwa hanyut tak selamanya hilang. Justru
kehanyutan itulah yang selalu membuatku lebih terlena, karena semua akan
terkumpul menyatu, dan kembali berulang. Seperti siklus hujan. Saat hujan
turun, aku sadar bahwa payungku tak akan pernah setara dengan hijabmu.
Bagiku menyukaimu
dalam diam lebih mulia dari logam mulia. Maka untukku tulisan serta doa ini
telah mewakilinya. Sebab tak ada salahnya mengagumimu dan merinduimu. Karena
kerinduan tak pernah peduli seberapa tersiksanya aku. Merinduimu sama manisnya
dengan menggigit Rainbow Cake, apapun
warnanya, kau selalu manis. Menghitung rinduku padamu akan selalu lebih sulit
daripada menghitung sel bakteri pada cawan. Merinduimu membuatku kesulitan
dengan disfungsi hati yang menjadi rapuh. Rapuh serapuh rapuhnya. Bukankah
berlebihan? Tidak menurutku. Karena merinduimu bukanlah hal yang salah.
Kawan, adakah yang
tau bagaimana cara yang lebih tepat untuk menghilangkan rasa yang terlanjur
terbawa bersama nafas. Mengalir bersama darah dan oksigen. Tersimpan rapih di
hati dan hipotalamus. Atau adakah cara yang paling mungkin menyamarkan ini
semua. Hingga semua ini dapat sirna semudah sebuah ilusi. Entahlah.
Hari ini, aku tak
lagi berbicara pada siapapun. Manusia pun tidak. Buku ini sudah cukup paham apa
yg aku rasakan dan akan menjadi sejarah bagiku. Karena itu lebih baik menurutku
daripada aku berbicara pada patung yang bisu. Hewan yang tak pernah mengerti.
Atau pun pada tumbuhan yang tak akan pernah mampu menjawab.
Hari ini kuserahkan
rinduku padaMu. Aku tak lagi akan memaksakan. Walau menurutku itu tak salah, tapi
lebih baik bagiku untuk mengerti bahwa pintu yang tertutup tak akan pernah
mencari kuncinya. Embun yang jatuh tak pernah kembali pada daun. Serta air yang
mengalir ke hilir tak pernah akan naik ke hulu. Tuhan maafkan aku. Jika aku
kemarin lebih merinduinya daripada merindui-Mu. Aku serahkan semua ini padamu.
Akan kuterima pabila rasa ini kau hilangkan. Atau bahkan Kau kuatkan. Amiin
re

Tidak ada komentar:
Posting Komentar